Skip to main content

Kematian Korban Yang Dituding Mencuri Singkong, Sang Keluarga Ditawari Uang Damai Oleh TNI Sebesar Rp 1,4 Juta


Kematian Korban Yang Dituding Mencuri Singkong, Sang Keluarga Ditawari Uang Damai Oleh TNI Sebesar Rp 1,4 Juta

Viaberita.com, Maluku – Hanya karena dituding mencuri singkong, La Gode diduga mendapat kekerasan hingga hilang nyawanya dari prajurit TNI dari Pos Satgas 732 Banua, Kepulauan Taliabu, Maluku Utara. Mendapat laporan ini, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Maromoi, langsung mengambil sikap.
Dalam kronoligis yang diterimanya, peristiwa itu dimulai saat La Gode tertangkap tangan mencuri singkong oleh anggota kepolisian setempat pada 10 Oktober 2017 silam, karena alasan tidak ada ruang tahanan di polsek setempat, La Gode langsung dititipkan ke Pos Satgas 732 Banua.
“Anehnya tidak ditahan di kantor polisi, malah dibawa ke pos satgas. Alasan TNI menerima La Gode karena dilakukan proses pembinaan,” ujar Kepala Divisi Pembelaan HAM Arif Nur Fikri, seperti yang dikutip dari laman merdeka.com, di kantornya, Jakarta Pusat, baru – baru ini.
Berselang lima hari kemudian, korban melarikan diri dari Pos Satgas, namun pada tanggal 23 Oktober 2017, La Gode ditangkap kembali bersama temannya yang juga saksi kunci bernama LM di Desa Kramat oleh anggota kepolisian dan dua orang anggota Satgas.
KontraS menyebut korban menerima siksaan seperti pemukulan dengan kabel dan selang, serta tendangan. Bahkan Komandan Kompi (Danki) melakukan pencabutan gigi dengan sebuah alat perkakas.
“Pada saat di pos satgas saksi melihat bagaimana praktik-praktik penyiksaan yang diduga oleh anggota Satgas 732 kepada La Gode berupa pemukulan, penendangan, hingga pengikatan di pohon agar korban mengakui tindak pidana kejahatan,” paparnya.
Dan sehari setelahnya, korban pun dikabarkan meninggal dunia. Lalu tiga hari pasca kematian, mirisnya pihak Satgas 732 Banua empat kali mendatangi keluarga korban agar tidak dibawa ke ranah hukum. Keluarga korban juga didesak dengan uang belasungkawa sebesar Rp 1,4 juta selama sembilan bulan serta sembako.
“Sekitar empat kali mendatangi keluarga menawarkan uang belasungkawa,” sambung Arief.
Pada tanggal 20 November 2017, keluarga La Gode bersama KontraS dan LBH Maromoi melaporkan ke Denpom Ternate dengan LP bernomor LP/30/XI/2017. Keluarga juga melaporkan dugaan tindak pidana ini ke Polda Maluku Utara dengan laporan nomor STPL/40/XI/2017/SPKT dan laporan ke Propam atas dugaan penyelewengan wewenang oleh anggota kepolisian dengan laporan nomor STPL/29/XI/2017/Yanduan, pada tanggal 22 November 2017.
Menindaklanjuti ini, Denpom Ternate melakukan pemeriksaan terhadap delapan saksi pada tanggal 2-3 Desember 2017.
Detasemen Polisi Militer XVI/1 Ternate mengaku secara intensif telah melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus kematian La Gode di Taliabu. Mereka telah memeriksa sejumlah pihak sebagai saksi baik dari pihak TNI, Polri maupun masyarakat sipil.
Hal tersebut senada dengan pernyataan Danrem 152/Babullah Kolonel Inf Sachono yang disampaikan Ws. Kapenrem 152/Babullah Kapten Inf Heru Darujito. Danrem 152/Babullah telah memerintahkan Dandenpom XVI/1 Ternate untuk melakukan langkah-langkah penyelidikan maupun penyidikan dan TNI tidak akan menutup-nutupi.
“Apabila memang benar terbukti ada keterlibatan oknum TNI dalam kasus Lede maka TNI akan mengambil langkah tegas sesuai aturan hukum yang berlaku. Hal ini sekali lagi menegaskan bahwa TNI tak main-main dalam kasus Lede,” pungkas Kapten Heru. (RF)
Sumber : http://www.viaberita.com/kematian-korban-yang-dituding-mencuri-singkong-sang-keluarga-ditawari-uang-damai-oleh-tni-sebesar-rp-14-juta/

Comments

Popular posts from this blog

Minta Lahannya Dibersihkan, Perum Billabong Depok Kerahkan Ratusan Massa Ambon Hingga Hancurkan Mushola

Minta Lahannya Dibersihkan, Perum Billabong Depok Kerahkan Ratusan Massa Ambon Hingga Hancurkan Musholaviaberita.com, Bogor – Bentrokan yang terjadi antara kedua kelompok ormas disekitar perumahan Billabong Bojong Gede Kabupaten Bogor, pada Sabtu (25/11/17) kemarin ini, benar – benar menarik perhatian. Pasalnya, keributan yang terjadi sekira pukul 09.00 Wib ini selain merusak gardu pos salah satu ormas, juga merusak sebuah Mushola.

Diketahui keributan ini dipicu masalah lahan, Perumahan Billabong Kecamatan Bojong Gede, Depok, berniat mengosongkan beberapa bangunan yang dinilainya liar di wilayahnya, dengan membawa massa dari Ambon berjumlah sekitar 44 orang yang dipimpin oleh Azis sedangkan pihak ormas BPPKB berjumlah sekitar 100 orang pimpinan Sujai.

Kapolsek Bojonggede AKP Agus Coster Sinaga mendatangi massa dari pihak Ambon di perum Billabong untuk memberikan arahan agar, pihak massa Ambon melaksanakan mediasi bersama pihak BPPKB di kantor pemasaran perum Billabong.

“Pihak Polsek B…

Argumen Abu Janda Dipatahkan Ustadz Felix Siauw

ArgumenAbu Janda Dipatahkan Ustadz Felix SiauwViaberita.com, Jakarta – Perlu diketahui bersama, bendera berlafal la ilaha illallah muhammadur rasulullah yang selama ini dituding milik salah satu organisasi islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah tidak benar. Hal ini sangat jelas sekali ketika Ustad Felix Siauw menjelaskan di acara talkshow Indonesia Lawyers Club soal “212: Perlukah Reuni?”, Selasa (5/12/17) malam.Ini pun sekaligus mematahkan argumen Permadi Arya alias Abu Janda al-Boliwudi, yang bersikeras bahwa bendera tersebut adalah milik HTI. Dalam adu argumen tadi malam, Abu Janda menilai Reuni 212 akhir pekan lalu ternoda dengan beredarnya bendera hitam putih tersebut. Sebab menurutnya, bendera itu tegas adalah bendera ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang telah dibubarkan pemerintah melalui Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017.“Itu jelas sudah dibubarkan. Kenapa benderanya ada. Aparat ke mana,” jelas Abu Janda dikutip dari tvOne, Selasa malam 5 Desember 2…